Quiz Literasi Bahasa Indonesia - Kelas UTBK SNBT 2026
Quiz by University ID
Tag the questions with any skills you have. Your dashboard will track each student's mastery of each skill.
Pelaksanaan referendum Timor-Timur pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie merupakan langkahberani dan bijaksana dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks dan berlarut-larut. Sejak integrasi TimorTimur ke Indonesia pada tahun 1975, banyak pengorbanan telah diberikan, termasuk subsidi yang besar dari pemerintah pusat untuk pembangunan dan kesejahteraan daerah tersebut. Namun, integrasi ini tidak pernah mendapatkan pengakuan internasional dan terus menjadi sorotan di berbagai forum dunia. Indonesia harus menghadapi kenyataan bahwa posisi negara sering kali dipojokkan oleh resolusi-resolusi PBB yang mendesak penyelesaian masalah Timor-Timur. Opsi otonomi luas yang ditawarkan oleh Indonesia dalam perundingan tripartit sebenarnya sudah merupakansolusi yang masuk akal. Namun, pihak-pihak yang menolak integrasi tetap menginginkan referendum untuk menentukan nasib mereka, antara memilih otonomi atau kemerdekaan. Menyadari sulitnya mencapai perdamaian jika konflik terus berlanjut, pemerintah Indonesia akhirnya memilih untuk menyetujui pelaksanaan jajak pendapat. Referendum berlangsung pada 30 Agustus 1999 dan hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas rakyat TimorTimur, sebesar 78,5%, memilih kemerdekaan. Setelah referendum, meskipun terjadi kekerasan, Indonesia dengan bijaksana menyetujui pengiriman pasukan multinasional demi menjaga perdamaian. Sikap ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk menghormati hak asasi manusia dan memenuhi tanggung jawab internasionalnya. Dengan menerima hasil referendum, pemerintah Habibie memberikan contoh bahwa Indonesia adalah negara yang demokratis, menghargai hak setiap bangsa untuk merdeka, serta berperan sebagai anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab.
Berdasarkan bacaan di atas yang dimaksud dengan "resolusi-resolusi PBB" adalah....
Sudah hampir sebulan aku di perantauan. Lima hari lagi aku harus pulang ke kampung halaman. PERASAANKU berkecamuk. Di satu sisi aku kangen pada tanah air tercinta yang alamnya konon kaya raya danindah permai. Aku rindu makanan kesukaanku yang tak ada di sini: nasi pecel, rujak cingur, tongseng kambing .Namun, di sisi lain menyelusup sebersit perasaan enggan pulang. Dan perasaan itu kian lama kian kuat. Orang bilang lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang. Tetapi, bagiku itu hanya omong kosong orang-orang yang tak pernah merasakan kesulitan hidup. Tentu saja lebih baik mendapat hujan emas di luar negeri daripada menjadi cacing melata di tanah air sendiri. Nasib mujur membawaku terbang ke sini. Aku ditugaskan sebagai asisten Pak Lurah untuk melakukan studi banding pembangunan berkelanjutan di pinggiran kota di negeri asing ini selama sebulan atas biaya sebuah yayasan sosial yang memiliki cita-cita mulia untuk kemakmuran dunia. Desa kami dipilih sebab dianggap berhasil menggali potensi swadaya desa dan bangkit dari kemiskinan. Kubilang mujur sebab tadinya bukan aku yang mendapatkan rezeki ini. Semula yang akan berangkat adalah Srimulat, staf khusus Pak Lurah yang genit dan suka menjilat. Namun, Bu Lurah murka dan memprotes rencana itu karena cemburu. Akibatnya, Srimulat batal berangkat. Posisinya lalu digantikan Mas Yoyon, keponakan Bu Lurah yang menjadi staf di kantor desa. Tetapi, enam minggu sebelum berangkat, dia terkena penyakit lumpuh sebelah. Ada yang bilang itu karena guna-guna. Orang-orang bergujirat bahwa itu penyakit kiriman Srimulat. Aku tak tahu pasti. Yang kutahu, aku ketiban pulung menggantikan Mas Yoyon berangkat ke Jerman.
Majas yang digunakan untuk menggambarkan perubahan nasib tokoh Aku adalah...
Polusi udara menjadi salah satu masalah kesehatan lingkungan paling serius di wilayah perkotaan Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penyakit saluran pernapasan termasuk lima besar penyebab kunjungan fasilitas kesehatan di kota besar. Konsentrasi partikel halus PM2,5 sering melampaui ambang batas aman Organisasi Kesehatan Dunia. Paparan jangka panjang meningkatkan risiko asma, penyakit jantung, dan kematian dini. Sumber utama polusi udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor. Data Dinas Lingkungan Hidup dibeberapa kota besar menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen emisi PM2,5 berasal dari sektor transportasi. Pertumbuhan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan kapasitas jalan dan transportasi umum. Akibatnya, kemacetan memperpanjang waktu paparan polusi bagi masyarakat. Pemerintah daerah merespons melalui kebijakan uji emisi kendaraan dan pembatasan usia kendaraan. Kebijakan ini bertujuan menurunkan emisi gas buang secara bertahap. Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa kepatuhan masyarakat masih rendah. Kurangnya pengawasan dan sanksi yang lemah mengurangi efektivitas kebijakan tersebut. Di sisi lain, penelitian kebijakan publik menyebutkan bahwa intervensi tunggal tidak cukup. Pengendalian polusi udara memerlukan pendekatan terpadu. Pengembangan transportasi publik, penataan kota, dan perubahan perilaku masyarakat harus berjalan bersamaan. Tanpa strategi komprehensif, penurunan polusi udara sulit dicapai secara berkelanjutan.
Berdasarkan teks, kritik paling mendasar terhadap kebijakan pengendalian polusi udara adalah...
Ketimpangan akses pendidikan tinggi masih menjadi persoalan di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa angka partisipasi kasar perguruan tinggi di wilayah perkotaan jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan. Kelompok masyarakat dari keluarga berpendapatan tinggi memiliki peluang melanjutkan pendidikan tinggi lebih besar. Faktor ekonomi masih menjadi penentu utama keberlanjutan studi. Pemerintah mengupayakan pemerataan melalui program beasiswa dan bantuan pendidikan. Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah dirancang untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan peningkatan jumlah penerima bantuan setiap tahun. Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya mengurangi kesenjangan antardaerah. Penelitian kebijakan pendidikan menemukan bahwa hambatan tidak hanya bersifat finansial. Keterbatasan informasi, kesiapan akademik, dan kualitas sekolah menengah turut memengaruhi partisipasi pendidikan tinggi. Siswa di daerah tertinggal sering tidak mendapatkan bimbingan akademik yang memadai. Akibatnya, peluang lolos seleksi perguruan tinggi menjadi lebih kecil. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan afirmatif berbasis bantuan biaya belum cukup. Pemerataan akses pendidikan tinggi memerlukan intervensi sejak jenjang pendidikan sebelumnya. Tanpa perbaikan kualitas pendidikan dasar dan menengah, kesenjangan berpotensi terus berlanjut.
Berdasarkan teks, kelemahan utama kebijakan pemerataan pendidikan tinggi yang ada saat ini adalah....